Rabu, 01 Juli 2015

Di Bawah Langit

Bila saja aku harus menjauh darimu,
Aku akan memulainya dengan berjalan mundur,
Menghayati lambai tanganmu detik demi detik sampai suatu saat kau tak terlihat lagi.
Hingga saat mataku berkaca-kaca, aku akan memejamkan mata biar sampai membuat pipiku basah.
Aku akan rutin menghitungi jarak, sembari menaruh harap jika aku bisa berjumpa dengan kamu lagi,
Aku menghamburkan sebagian perasaanku melayang-melayang di atas tanah,
biar saat berjumpa denganmu, aku ingin tidak terlalu bergetar lagi.
Menjadi dilema, sebab senangmu sudah tidak denganku lagi.
Sementara sejauh apapun aku berjalan mundur dari engkau,
Kita masih tetap dalam satu bumi,
Kita masih sama-sama di bawah lagit yang sama dengan langit ketika kamu mengatakan rindu.
Dan itu menjadi sulit,
Karena untukku, kamu sudah menjadi candu





Jakarta, 01 Juli 2015
Dibawah dinginnya AC kantor



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar